Awal tahun 2014 menjadi titik mula perjalanan Ibu Fatimah Hariyati di Instalasi Gizi RSU UMM. Ia datang di saat kondisi masih sangat sederhana, ruangan yang lengang, jumlah pasien yang belum banyak, serta tim kerja yang masih terbatas. Dari situ, perlahan ia tumbuh menjadi bagian dari perjalanan panjang Instalasi Gizi yang terus berkembang dari waktu ke waktu.
Perubahan demi perubahan kemudian ia saksikan secara langsung. Peralatan yang dahulu serba manual kini telah bertransformasi menjadi lebih modern dan terstandar. Namun, di antara semua perjalanan itu, masa pandemi COVID-19 menjadi babak yang paling membekas. Dalam keterbatasan tenaga akibat banyaknya karyawan yang sakit atau harus beristirahat, mereka tetap dituntut memberikan pelayanan yang optimal.
“Saat itu yang penting pekerjaan selesai dan semua saling mendukung. Dari situlah terasa bahwa Instalasi Gizi bukan sekadar tempat bekerja, melainkan keluarga yang saling menguatkan dalam setiap situasi,” tuturnya.
Lebih dari sekadar rutinitas, RSU UMM telah menjadi ruang belajar yang membentuk dirinya. Ia mendapatkan banyak pengalaman baru, mulai dari pengolahan makanan yang benar hingga keterampilan yang bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari. Semua itu secara perlahan membentuk dirinya menjadi pribadi yang lebih tanggap, sabar, dan peduli terhadap sesama. Bagi Ibu Fatimah, bekerja di rumah sakit juga mengajarkan satu hal yang paling berharga yakni rasa syukur atas kesehatan yang dimiliki.
Kini, ketika masa pengabdian itu sampai di penghujung, Ibu Fatimah tidak benar-benar merasa berpisah. Ia hanya tengah melangkah menuju babak kehidupan berikutnya. Lebih dari 12 tahun pengabdian bukan sekadar hitungan waktu, melainkan rangkaian cerita tentang ketekunan, kebersamaan, dan keikhlasan. Setiap sudut Instalasi Gizi menyimpan kenangan, tentang awal yang sederhana, tentang kerja keras, hingga tentang hangatnya kebersamaan di tengah tantangan.
Dengan langkah yang kini lebih ringan, ia membawa pulang makna pengabdian yang sesungguhnya bahwa bekerja bukan hanya tentang menyelesaikan tugas, tetapi tentang memberikan dampak nyata bagi orang lain. Ia pun menitipkan harapan agar RSU UMM terus berkembang, semakin memberikan manfaat bagi seluruh lapisan masyarakat, serta mampu meningkatkan kesejahteraan bagi seluruh karyawannya.
“Semoga RSU UMM semakin maju, tetap kompak, dan terus menjadi tempat yang membawa kebaikan bagi banyak orang. RSU UMM sudah menjadi rumah kedua bagi saya,” pesannya. Meski namanya tak lagi tercatat sebagai pegawai aktif, jejak pengabdiannya akan tetap hidup dalam setiap pelayanan, dalam semangat gotong royong, dan dalam nilai yang terus dijaga sesuai dengan motto RSU UMM “layananku adalah pengabdianku”.
Simak video dokumenter purna tugas Bu Fatimah di link berikut https://youtu.be/PQtqX6LBFV4